Jan 19 2010

Penyakit Cinta Ketenaran (Popularitas)

Published by tangguheka under Sharing and tagged:

Ketenaran (popularitas) memang mahal harganya. Betapa banyak orang yang rela mengorbankan banyak harta benda hanya karena untuk memperoleh ketenaran. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh para penyanyi, ataupun para bintang film. Mereka selalu berusaha tampil beda agar bisa menarik perhatian umat dunia. Bahkan ada yang rela untuk melakukan hal-hal yang aneh dan yang diharamkan oleh Allah hanya untuk memperoleh popularitas (sebagaimana penulis membaca pengakuan seorang wanita yang rela untuk berfoto setengah telanjang -bukan setengah lagi, tapi 90%, karena hanya tersisa beberapa utas benang atau secarik kain yang menutupi tubuhnya, “awas jangan dibayangkan!!”-, padalah dia hanya dibayar sangat rendah. Dia mengaku bahwasanya semua itu agar dia menjadi tenar. Na’udzu billahi min dzalik), yang toh setelah perjuangan dan pengorbanannya tersebut dia belum tentu tersohor. Kalaupun terkenal, toh belum tentu bertahan lama. Namun bagaimanapun popularitas merupakan sesuatu impian yang didambakan oleh banyak manusia (kafir maupun muslim).

Sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini. Hampir seluruh keanehan-keanehan yang dilakukan oleh manusia sesungguhnya dikarenakan cinta popularitas. Kita lihat ada orang yang mengecet rambutnya bewarna warni, ada yang kepalanya setengah gundul dan setengahnya rambutnya panjang hingga bahunya dan dicat hijau, ada yang rambutnya cuma ditengah saja panjang adapun sisanya gundul, ada yang dipotong seperti warna macan tutul (botak gundul, botak gundul), ada yang tengahnya gundul dan kanan kiri kepalanya ada rambutnya, ada yang seluruh kepalanya gundul namun tersisia satu pelintiran yang panjang sekali, dan model-model yang lainnya yang banyak sekali dan aneh-aneh. Ini, padahal baru masalah rambut, belum masalah telinga, hiasan leher, apalagi model pakaian. Yang semua ini hanyalah dilakukan demi ketenaran. Belum lagi karena pengaruh perkembangan teknologi informasi, dimana manusia dapat mengiklankan dirinya dan menginformasikan segala kegiatannya selama 24 jam ke seluruh dunia melalui situs jejaring sosial Facebook.

Demi Allah, seandainya salah seorang dari mereka itu tinggal di hutan yang tidak ada manusianya sama sekali kecuali dia sendiri, dan dia hanya berteman binatang dan pepohonan, demi Allah dia tidak akan melakukan hal-hal aneh yang telah dia lakukan, karena tidak ada manusia yang memperhatikannya. Kalau dia tetap aneh juga maka dia akan terkenal diantara para hewan. Popularitas merupakan kenikmatan dunia yang mahal harganya.

Penyakit cinta ketenaran ternyata tidak hanya menimpa orang awam saja yang tidak mengetahui perkara-perkara agama, namun juga menjangkiti para ahli ibadah dan para penuntut ilmu syar’i. Walaupun memang bentuknya berbeda, namun hakekatnya sama adalah cinta popularitas. Ahli ibadah juga pingin kesungguhannya dalam beribadah diketahui oleh para ahli ibadah yang lain, ahli ilmu pun ingin orang lain tahu bahwasanya dia adalah seorang yang pandai, sehingga akhirnya martabatnya tinggi dihadapan manusia. Penyakit inilah yang dalam kamus agama disebut penyakit riya’ (pingin dilihat orang) dan sum’ah (pingin didengar orang).

Manusia begitu bersemangat untuk menutupi kejelekan-kejelekan mereka, mereka tutup sebisa mungkin, kejelekan sekecil apapun, dibungkus rapat jangan sampai ketahuan. Hal ini dikarenakan mereka menginginkan mendapatkan kehormatan dimata manusia. Dengan terungkapnya kejelekan yang ada pada mereka maka akan turun kedudukan mereka di mata manusia. Seandainya mereka juga menutupi kebaikan-kebaikan mereka, -sekecil apapun kebaikan itu, jangan sampai ada yang tahu, siapapun orangnya (saudaranya, sahabat karibnya, guru-gurunya, anak-anaknya, bahkan istrinya) tidak ada yang mengetahui kebaikannya- , tentunya mereka akan mencapai martabat mukhlisin (orang-orang yang ikhlas). Mereka berusaha sekuat mungkin agar yang hanya mengetahui kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan hanyalah Allah. Karena mereka hanya mengharapkan kedudukan di sisi Allah.

Rasulullah SAW bersabda, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)”. (HR Al Baihaqi)

Tidak seorangpun diantara kita yang meragukan akan kesungguhan para sahabat dalam beribadah. Namun walaupun demikian, mereka tidaklah ujub (merasa dirinya hebat), atau memamerkan amalan mereka kapada manusia, jauh sekali dengan kita. Adapun sebagian kita (atau sebagian besar, atau seluruhnya (kecuali yang dirahmati oleh Allah), sudah amalannya sedikit, namun diceritakan kemana-mana (Bahkan kalau bisa orang sedunia mengetahuinya).

Ada yang berkata, ”Dakwah saya disana…, disini…”, ada juga yang berkata,”Yang menghadiri majelis saya jumlahnya sekian dan sekian…” (padahal kalau dihitung belum tentu sebanyak yang disebutkan, atau memang benar yang hadir majelisnya banyak tetapi tidak selalu. Terkadang yang hadir dalam sebagian majelisnya cuma sedikit, namun tidak dia ceritakan, atau yang hadir banyak tapi pada ngantuk semua, juga tidak dia ceritakan. Pokoknya dia ingin gambarkan pada manusia bahwa dia adalah da’i favorit), ada yang berkata, “Saya sudah baca kitab ini, kitab itu.. hal ini sebagaimana termuat dalam kitab ini atau kitab itu…”(padahal belum tentu satu kitabpun dia baca dari awal hingga akhir, atau bahkan belum tentu dia baca sama sekali secara langsung kitab itu. Namun dia ingin gambarkan pada manusia bahwa mutola’ahnya banyak, agar mereka tahu bahwa dia adalah orang yang berilmu dan gemar membaca). Yang mendorong ini semua adalah karena keinginan mendapat penghargaan dan penghormatan dari manusia.

Perhatikanlah wahai saudaraku… sesungguhnya hanyalah orang-orang yang beruntung yang memperhatikan gerak-gerik hatinya, yang selalu memperhatikan niatnya. Terlalu banyak orang yang lalai dari hal ini kecuali yang diberi taufik oleh Allah. Orang-orang yang lalai akan memandang kebaikan-kebaikan mereka pada hari kiamat menjadi kejelekan-kejelekan, dan mereka itulah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya.

Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Az Zumar: 48).

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfy: 104).

Wahai saudaraku, ketahuilah… sesungguhnya ikhlas adalah sesuatu yang sangat berat, penuh perjuangan untuk bisa meraihnya. Pintu-pintu yang bisa dimasuki syaitan untuk bisa merusak keikhlasan kita terlalu banyak. Tatkala kita sedang beramal maka syaitanpun berusaha untuk bisa menjadikan kita riya’, kalau tidak bisa menjadikan kita riya’ di permulaan amal, maka dia akan berusaha agar kita riya’ di pertengahan amal. Kalau tidak mampu lagi maka di akhir amalan kita.

Semoga Allah SWT melindungi kita dari penyakit riya’, ujub dan pamer..

Wahai Dzat yang membolak-balikan hati-hati (manusia) tetapkanlah hatiku atas agamaMu.

No responses yet

Des 31 2009

End of Year 2009

Published by tangguheka under Rehat and tagged:

Tak terasa sudah kita di penghujung tahun 2009. Rasanya baru kemarin memasuki 2009, kini  kita akan segera memasuki tahun 2010.

Begitulah siklus hidup manusia. Begitu singkat..!! Waktu setahun rasanya begitu cepat berlalu. Semakin bertambah usia kita semakin kita menyongsong ajal kita masing-masing. Usia kita bertambah, umur kita berkurang. Masing-masing kita gak tau “dijatah” berapa oleh Allah SWT. 70 tahun kah, 60 atau 50 bahkan mungkin beberapa tahun atau beberapa bulan lagi. Wallahu ‘alam…

 

Kalo orang bijak bertanya, “Umur kita sudah berapa dan tinggal berapa..?” Pertanyaan pertama insya Allah bisa kita jawab. Umur saya 30 atau 40 atau 50. Tapi bagaimana dengan pertanyaan yang kedua? Tidak ada yang bisa menjawabnya. Karena lahir, jodoh, rezeki dan mati adalah rahasia Allah. Kematian itu datangnya sewaktu-waktu. Orang muda mati, pantas. Anak kecil mati, ya pantas juga. Orang tua mati, ya lebih pantas lagi.

Merinding rasanya bulu kuduk kita kalau bicara soal kematian. Tapi akan lebih merinding lagi bila kita mengetahui ancaman siksa dari Allah setelah mati.

 

Banyak sudah kejadian yang kita alami selama setahun belakangan. Cerita sedih, senang, takut, gembira menggoreskan kenangan dalam lembaran hidup kita. Namun waktu yang sudah berlalu tak mungkin dapat diulang kembali. Biarlah waktu yang sudah berlalu dapat menjadi hikmah bagi diri kita. Apa yang sudah kita lakukan setahun ini..? Apa kemajuan yang sudah kita raih setahun ini..? Tentunya ini akan menjadi cambuk buat kita untuk lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Orang bijak mengatakan, “Tahun ini harus lebih baik dari tahun kemarin dan tahun yang akan datang harus lebih baik dari tahun ini..”

 

Ya Allah, wahai Dzat yang membolak-balikkan hati. Tetapkanlah aku dalam agama Mu..

Ya Allah, wahai Dzat yang membolak-balikkan hati. Tetapkanlah aku dalam taat pada Mu..

Ya Allah, wahai Dzat yang membolak-balikkan hati. Tetapkanlah aku dalam keimanan..

No responses yet

Next »